wisata brebes

Petualangan ke Ranto Canyon di Kabupaten Brebes

Dikutip https://betwin188.online/ siapa yang menyangka ternyata di Kabupaten Brebes terdapat sebuah tempat yang indah sekaligus sarana pemacu adrenalin, Ranto Canyon namanya. Ranto Canyon terletak di desa Winduasri, Kecamatan Salem. Dulu, tempat ini dianggap keramat oleh warga setempat dan jarang ada yang berani melewatinya. Namun, setelah dijelajahi oleh beberapa pemuda lokal, ternyata tempat yang tersembunyi ini memiliki keindahan yang menawan, secantik Green Canyon di Pangandaran.. Ranto Canyon adalah sebuah tempat di sepanjang aliran sungai kecil yang dipenuhi batuan dan dihiasi beberapa air terjun. Di setiap sisinya diapit tebing-tebing yang menjulang tinggi. Tebing-tebing yang tampak berwarna kehijauan tersebut tampak cantik. Terlebih di siang hari saat sinar mentari menerobos masuk ke sela-sela tebing dan menyinari butiran-butiran air yang jatuh dari puncak tebing, stunningly beautiful!! That’s the best part.. Namun, ada harga yang harus dibayar lunas untuk menikmati keindahan tersebut. Tempat yang memukau ini hanya diperuntukkan untuk kalian para pecinta tantangan, ya minimal berani melawan ketakutan terhadap ketinggian.

Berawal dari postingan teman gue Nina di Facebook pada pertengahan tahun 2015, gue baru menyadari ternyata ada tempat sekeren ini di kecamatan tetangga. Jaraknya hanya sekitar 25 km dari desa kelahiran gue, desa Jipang Kecamatan Bantarkawung (promosi kampung halaman, biar terkenal dikit lah :V ).. Gue add akun Ranto Canyon di FB lalu bertanya ke adminnya. Akhirnya gue pun membulatkan tekad saat mudik nanti harus main ke tempat ini. WAJIB!! Liburan Natal 2015, gue dan Ayu bertolak menuju kampung halaman gue. Sesampainya di rumah, gue langsung mengajak saudara-saudara gue untuk ikut bertualang ke Salem..

Dengan mengendarai si Boggil, perjalanan pun dimulai. Selain gue dan Ayu, fix yang gabung cuma Lindi (keponakan gue), dan Royyan (Lindi’s boyfriend).. Perjalanan ke Salem dari arah Bumiayu dimanjakan dengan pemandangan hutan pinus dan lembah namun dipenuhi dengan tanjakan dan kelokan. Syukurlah jalan sudah halus dan diperlebar, tapi tetep hati-hati ya guys karena di sini banyak jurang. Kalau jaman dulu, beuuuh, sempit dan bolong dimana-mana. Setelah melewati desa Bentar, perjalanan dilanjut ke jalan yang lebih kecil dan di sini masih banyak ditemui jalan berlubang. Saat itu, penunjuk ke Ranto Canyon hanyalah petunjuk sederhana di tembok jembatan, di jalan, dan beberapa di ayakan beras tradisional yang dipajang di pinggir jalan, 😀 .. Semakin jauh dari ibukota kecamatan, semakin jelek pula jalanan. Awalnya jalan pengerasan dengan sirtu, lama-lama malah jalan batuan. Apalagi ditambah dengan terjalnya medan, ekstrim gila.. Di speedometer, gue liat indikator suhu mesin si boggil udah semakin tinggi.. Wah gawat, mau nyerah tapi tanggung dikit lagi nyampe.. Akhirnya keempat jendela gue buka lebar-lebar, dan knob ac gue putar ke penghangat kabin.. Hal ini gue lakukan supaya panas mesin berkurang dengan dialirkan ke kabin mobil.. Setelah dengan gagahnya si Boggil melahap kerasnya jalanan, akhirnya gue kembali bertemu jalan aspal dan ternyata sudah di desa Winduasri, fiuuuh… Maaf ya boggil, harusnya lu diperuntukkan sebagai kendaraan dalam kota, tapi sering “disiksa” untuk memuaskan hasrat bertualang si empunya.. 😀

Karena terbatasnya lahan parkir untuk mobil, gue gak kebagian tempat parkir di sekitar posko, akhirnya gue memarkirkan si boggil di parkiran rumah warga, tak lupa meminta ijin dulu dong. Kami berempat harus berjalan beberapa ratus meter menuju posko kedatangan Ranto Canyon. Sesampainya di sana ternyata sudah ramai. Kami membayar 40k/orang lalu disuruh antri. Menelusuri Ranto Canyon harus berkelompok dan ditemani seorang guide. Kalau rombongan kita hanya sedikit, nanti digabung dengan rombongan lain. Kami duduk di kios makanan sambil menikmati gorengan sebelum tiba giliran kami untuk menelusuri Ranto Canyon. Urusan perut di sini aman kok, banyak warung makanan di sekitar posko kedatangan..

Akhirnya tibalah giliran kami, sebelum menuju lokasi, si akang pemandu ngasih pengarahan, lalu berfoto bersama dan berangkaaat.. Para pengunjung juga disediakan live vest. Tapi sayang karena persediaan terbatas, hanya 2 yang tersedia untuk kami berempat. Kami juga gak disediakan helm pelindung sebagaimana yang gue liat di laman facebooknya. Semoga ke depannya makin lengkap peralatan keselamatannya guys. Kami harus trekking lagi beberapa ratus meter menyusuri pematang sawah.. Dari kejauhan, tidak terlihat adanya tempat yang luar biasa indah di sini. Hanya rerumputan rimbun yang berada di kaki bukit di ujung persawahan.